Laman

Kamis, 10 Oktober 2013

Do'a Setelah Membaca Al-Qur'an



الدليل: عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Dalilnya, dari Aisyah beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau membaca al Qur’an ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat”. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, membaca al Qur’an ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat?” Jawaban beliau, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan "Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. ”

)
إسناده صحيح: أخرجه النسائي في “السنن الكبرى” (9/123/10067)، والطبراني في “الدعاء” (رقم1912)، والسمعاني في “أدب الإملاء والاستملاء” (ص75)، وابن ناصر الدين في “خاتمة توضيح المشتبه” (9/282).

Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Sam’ani dalam Adab al Imla’ wa al Istimla’ hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.

Rata2 Umur Kita 60-70

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata bahwa Rasûlullâh shallallahu 'alaihi wassallam bersabda, “Umur ummatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit yang melewatinya." [HR. Tirmidzi; dihasankan oleh al-Albâni]

Rabu, 09 Oktober 2013

Mengenal Qiroah Asyroh

Sejatinya, ada banyak ragam bacaan Al Qur’an. Rasululloh shollollohu alaihi wa sallam mengatakan bahwa Al Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf. Sabda beliau, “Sesungguhnya Al Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf. Maka, bacalah apa yang mudah darinya. “ (Muttafaq alaih dari Umar bin Khotthob rodhiyallohu anhu)

Tujuh huruf ini bukan berarti tujuh macam bacaan. Karena, menurut para ulama, angka tujuh di sini bukanlah bilangan tertentu dalam arti sebenarnya, melainkan untuk menunjukkan suatu jumlah yang banyak. Ia mempunyai makna; keringanan, kemudahan, dan keluasan. Maksudnya, karena bangsa Arab (waktu itu) terdiri dari banyak suku dan kabilah, di mana masing-masing mempunyai sejumlah perbedaan dalam kosa kata dan logat, maka sangat terbuka kemungkinan adanya perbedaan dalam bacaan. Dan, inilah fleksibilitas Al Qur’an. Dari sinilah, muncul istilah qiroah sab’ah (qiroat tujuh) dan qiroah asyroh (qiroat sepuluh).

Istilah qiroat ini disandarkan kepada imamnya. Misalnya, ada salah seorang imam qiroat bernama Ashim bin Abi An Najud Al Kufi, maka qiroatnya disebut qiroat Ashim. Dan, masing-masing imam ini mempunyai dua orang perawi yang meriwayatkan qiroat gurunya. Dalam contoh ini, yakni ragam bacaan yang biasa kita baca berdasarkan riwayat Hafsh bin Sulaiman, maka penyebutannya adalah riwayat Hafsh ‘an Ashim atau qiroaat Ashim riwayat Hafsh.

Sedangkan standar keabsahan dari bacaan imam qiroat ini didasarkan atas talaqqi (penerimaan langsung) kepada generasi-generasi berikut dan sebelumnya. Karena itu, tingkatan sanad (jalur periwayatannya) terbagi atas 5 tingkatan, yaitu:
  1. Mutawatir, yaitu diriwayatkan sejumlah perawi dan bersambung sampai Nabi  shollollohu alaihi wa sallam.
  2. Masyhur, yakni mempunyai sanad yang shohih, hanya saja perawinya tidak sebanyak perawi mutawatir.
  3. Ahad, yakni mempunyai sanad shohih, tapi tidak cocok dengan dengan Rosm (tulisan baku) utsmani atau kaidah bahasa arab. Qiroat ini tidak populer, hanya orang yang telah benar-benar mendalami ilmu qiroat yang dapat mengetahuinya.
  4. Syadz, yaitu tidak mempunyai sanad yang shohih, perawinya terputus, tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab atau khot Utsmani. Qiroat ini sangat jarang yang menguasainya dan statusnya hanya sebagai ilmu pengetahuan, tidak sebagai pegangan.
  5. Maudhu artinya palsu yakni qiroah buatan yang tidak memiliki dasar dan sanad yang jelas.
Nama Imam Qiroat Asyroh
  1. Nafi bin Abdurrohman bin Abu Nu’aim Al Laitsi (w. 169H), beliau imam qoriah madzhab Madinah. Perawinya Qolun, Abu Musa Isa bin Mina (w. 220H) dan Warosy, Utsman bin Sa’id Al Mishri (w.197)
  2. Ibnu Katsir, Abu Ma’bad Abdulloh ibnu Katsir Al Makki (w. 120H), beliau imam qoriah madzhab  Mekah. Perawinya Al Bazzi, Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh bin Abu Bazzah (w. 250H) dan Qunbul Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad Al Makhzumi (w. 291H)
  3. Abu Amr, Zabban bin Al ‘Ala bin Ammar (w.154H), beliau imam madzhab di Bashroh. Perawinya Ad Duri, Abu Amar bin Hafash bin Umar (w.246H) dan As Susy, Abu Syu’aib Sholih bin Ziyad As Susy (w. 261H)
  4. Ibnu Amir, Abdulloh bin Amir Al Yahshabi (w. 118H), imam madzhab qurro di Syam. Perawinya Hisyam bin Ammar Al Dimasyqi (w. 245H) dan Ibnu Dzakwan Abu Amir Abdulloh bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan Al Dimasyqi (w. 242H)
  5. Ashim, Abu Bakar bin Abun Najud Al Asadi (w. 128H), imam madzhab qurro’ di Kuffah. Perawinya Syu’bah, Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy bin Salim Al Asadi (w. 193H) dan Hafsh, Abu Amar Hafsh bin Sulaiman bin Al Mughiroh (w. 180H)
  6. Hamzah bin Hubaib Az Zayyat (w. 156H), imam madzhab qurro di Kuffah. Perawinya Kholaf, Abu Muhammad Kholaf bin Hisyam Al Bazzaz (w. 229H) dan Khollad, Abu Isa Khollad bin Kholid As Sairofi (w. 220H)
  7. Al Kisa’i, Abu Hasan Ali bin Hamzah Al Kisa’i (w. 189H), imam qiroat di Kuffah. Perawinya Abu Harits, Al Laits bin Kholid Al Baghdadi (w. 240H) dan Ad Duri yang juga perawi Abu Amr (w. 246H)
  8. Abu Ja’far, Yazid bin Al Qo’qo Al Makhzumi (w. 130H), beliau ulama qurro’ di Madinah. Perawinya Ibnu Wirdan, Abu Musa Isa bin Wirdan Al Madani (w. 160H) dan Ibnu Jammaz, Abdur Robi’ Sulaiman bin Muslim bin Jammaz (w.170H)
  9. Ya’qub, Abu Muhammad Ya’qub bin Ishaq Al Hadromi (w. 205H), beliau ulama madzhab Bashroh. Perawinya Rauh, Abu Hasan Rauh bin Abdul Mu’min bin Ubdah bin Muslim Al Hazali An Nahwi (w. 234H) dan Ruwais, Abu Abdulloh Muhammad bin Al Mutawakkil Al Lu’luil Bashroh (w. 238H)
  10. Khollaf bin Hisyam (w. 229H), ulama qurro’ di Kuffah. Perawinya Ishaq, Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrohim bin Utsman bin Abdulloh Al Marwizi (w. 286H) dan Idris, Abu Hasan bin Abdul Karim Al Haddad Al Baghdadi (w. 292H)
Contoh Aplikatif Qiroah

Awalnya, bukan mustahil ada di antara kita membayangkan adanya perbedaan bacaan ini, baik pada qiroah sab’ah maupun qiroah asyroh, mencakup keseluruhan ayat. Ternyata tidaklah demikian. Tidak setiap kalimat atau ayat itu terdapat ikhtilaf (perbedaan bacaan) dan tidak setiap qori’ dari imam qiroat itu berbeda bacaan dengan yang lain.  Adakalanya dalam satu imam itu tidak terjadi perbedaan bacaan di kalangan perawinya, dan adakalanya perbedaan itu lebih dari satu.

Salah satu contoh adalah bacaan  ارْكَب مَّعَنَا  dalam surat Hud ayat 42. Dalam qiroat Asyroh; Abu Amr, Al Kisai dan Ya’qub membaca dengan idghom. Sementara Warosy, Ibnu Amir, Kholaf dan Abu Ja’far membaca dengan idzhar. Adapun Ibnu Katsir, Ashim, Qolun dan Khollad membaca dengan dua cara; idghom dan idzhar. Dan jika dibaca dengan idzhar maka dibaca dengan qolqolah. Pada contoh di atas Warosy yang merupakan perawi Imam Nafi membaca dengan idzhar, sementara perawi lainnya Qolun membaca dengan dua wajah, yakni idghom dan idzhar.

Berikut ini contoh aplikatif qiroah sab’ah dalam surat Al-Fatihah.

Pada ayat pertama; بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ     tidak satupun imam qiroat berbeda pendapat perihal bacaan ayat ini. Artinya tidak boleh merubah sedikitpun, baik dari aspek harakat maupun hurufnya. Memang, di beberapa kitab tafsir, dijelaskan macam-macam alternatif bacaan pada ayat ini. Diantaranya bolehnya memfathahkan atau mendhommahkan “nun” dan “mim pada kata “ar-rohman” dan “ar-rohim”.

Dalam kajian ilmu nahwu, variasi I’rob seperti ini masih bisa dibenarkan, dengan alasan semata analisis kalimat. Namun, dalam ilmu qiroat yang memiliki sanad mutawatir, ternyata tidak ada perbedaan bacaan “basmalah” tersebut dan tidak dibenarkan membaca di luar itu. Jadi, tujuh imam dan 14 perawinya membaca ayat tersebut secara sama. Demikian juga halnya pada ayat 2,  3 dan 5 pada surat al-Fatihah.

Pada ayat 4; مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ para imam tujuh berbeda pendapat mengenai kata “maliki”, ada yang memanjangkan satu alif dan ada juga yang mengqoshor satu harakat. Imam Ashim dan Al Kisa’i membacanya panjang, sementara kelima imam yang lain membaca pendek. Kemudian, ayat 3 dan 4 apabila diwasholkan akan muncul dua wajh (variasi). Variasi pertama, dibaca seperti biasa, dan variasi kedua, dibaca dengan idghom kabir, yakni menjadikan pertemuan dua mim pada kalimat: الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  == sama panjangnya dengan mad lazim kilmi mutsaqqol, artinya harakat kasroh pada mim “ar-rohim” melebur pada mim “maliki” disertai panjang 6 harakat disertai pemberatan bacaan. Idghom kabir semacam ini hanya dijumpai dalam riwayat As-Susy yang merupakan perawi dari Imam Abu Amr.

Pada ayat 6: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ terdapat ikhtilaf pada kata “ash-shiroth”. Riwayat Qunbul pada bacaan Imam Nafi’ membaca “shod” dengan “siin” dan dua riwayat dari Imam Hamzah (Kholaf dan Kholad) membaca “shod” dengan isymam, yaitu menggabungkan bunyi “shod’ dengan “za’”. Jadi, ketika membaca ikhtilaf dari ayat ini, diperlukan pengulangan tiga kali; (1) bacaan biasa, (2) mengganti dengan “siin”, dan (3) membaca isymam.

Pada ayat 7: صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ  terdapat dua kata yang mengandung ikhtilaf, yaitu “shiroth” dan “mim jama”. Untuk bacaan isymam shod pada ayat ini hanya milik Kholaf, sementara Kholad semata-mata mengisymamkan ayat 6 saja, meski keduanya merupakan perawi dari Imam Hamzah. Selain itu, imam nafi’ riwayat Qolun, mendhommahkan mim jama dan memanjangkan satu alif, istilah ini disebut dengan “shilah”. Ini adalah wajh kedua dari Qolun, sementara wajh pertamanya sama dengan imam-imam yang lain, yakni mensukunkan mim jama’, istilah ini disebut “sukun”. Disamping itu pada bacaan Imam Hamzah, huruf ha’ yang jatuh sebelum mim jama’ harus dibaca “dhommah”, sehingga menjadi “alaihum”.
Dengan demikian, untuk membaca ayat ini diperlukan lima kali pengulangan, yaitu: (1) bacaan biasa, (2), shad biasa dan shilah Qolun, (3) shod biasa dan ha’ dhommah dari Kholad, (4) mengganti shod dengan siin disertai shilah dari Qunbul, dan (5) isymam shod disertai ha’ dhommah dari Kholaf.
 
Sumber : cahayaqurani.wordpress.com dan sumber lainnya

Mengumpulkan Qiraat Sab'ah



Tajuk fatwa : Hukum Mengumpulkan Qiraat Sab'ah (Bacaan Tujuh)
Nomor fatwa : 6
Tanggal penambahan : Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa : Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah
Sumber fatwa : [Kumpulan fatwa, jilid 13, halaman 404]
Soal:
Ibnu Taimiah ditanya tentang pengumpulan Bacaan Tujuh, sesuai dengan sunah ataukah bidah?
Apakah bacaan-bacaan itu dikumpulkan pada zaman Rasulullah atau tidak? Apakah orang yang mengumpulkannya mempunyai keistimewaan dengan mendapatkan pahala dari orang yang membaca dengan riwayatnya, atau tidak?
Jawab :
Syaikhul Islam Taqiuddin Abu Al-'Abbas Ahmad bin Taimiah berkata: Segala puji hanyalah bagi Allah. Adapun mengetahui qiraat dan menghafalnya, maka hal ini adalah sunah yang turun-temurun, yang terakhir mengambil dari yang pertama. Maka dari itu, mengetahui bacaan sebagaimana Rasulullah membaca, atau bacaan yang diakui kebenarannya oleh Rasulullah, atau bacaan yang diizinkan oleh Rasulullah dan diakuinya adalah sunah. Dan orang yang memiliki pengetahuan dalam qiraat dan hafal, dia mempunyai keistimewaan di atas orang yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya atau hanya mengetahui satu qiraat saja.
Mengumpulkannya dalam salat atau dalam membaca Al Qur'an adalah bidah yang makruh. Sedangkan mengumpulkannya dengan tujuan untuk dihafal dan dipelajari, maka hal ini adalah merupakan ijtihad yang dilakukan oleh beberapa kelompok dalam bidang qiraat.

Fatwa MUI JATIM: Syiah Sesat

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
(MUI) PROP. JAWA TIMUR
No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012
Tentang :
TENTANG KESESATAN AJARAN SYI’AH

Majelis Ulama Indonesia Propinsi Jawa Timur pada sidang hari Sabtu, Tanggal 21 Januari 2012
Membaca:
1. Surat Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Bangkalan No. 26/26-XV/DPMUI/BKL/XII/2011 tertangal 17 Desember 2011 tentang Permohonan Ketetapan Aliran
Syi’ah
2. Surat Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Sampang No.A-034/MUI/Spg/XII/2011
tertanggal 30 Desember 2011 tentang Laporan Peristiwa di Desa Karang Gayam
3. Surat Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
(Korwil) Surabaya No. 01/Korwil/Sby/I/2012 tertanggal 12 Januari 2012 tentang Aliran
Syi’ah yang isinya meminta kepada MUI Provinsi Jawa Timur untuk melakukan kajian
dan penetapan fatwa Syi’ah.
4. Surat Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
(Korwil) Besuki No. 01/MUI/Besuki/I/2012 tertanggal 13 Januari 2012 tentang Aliran
Syi’ah yang isinya meminta kepada MUI Provinsi Jawa Timur untuk melakukan kajian
dan penetapan fatwa Syi’ah.
5. Rekomendasi Hasil Musyawarah Badan Shilaturrahmi Ulama Pesantren Madura
(BASSRA) Selasa, 03 Januari 2012 yang salah satu isinya meminta agar MUI Provinsi
Jawa Timur mengeluarkan fatwa tentang ajaran Syi’ah.
6. Surat dari Jam’iyah Ahlussunnah wal Jama’ah Bangil Pasuruan No.
025/ASWAJA/I/2012 tertanggal 10 Januari 2012 tentang Permohonan Fatwa Sesat
Ajaran Syi’ah.
7. Surat Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Gresik No. 003/MUI/KAB.G/I/2012 tertangal 19
Januari 2012 tentang Laporan Keberadaan Syi’ah di Gresik
8. Pernyataan Sikap Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim tanggal 17 Januari 2012
menyikapi kasus Sampang dan ajaran Tajul Muluk.
9. Pernyataan Sikap 83 ulama Pondok Pesantren menyikapi aliran yang dibawa oleh saudara
Tajul Muluk tangal 10 Januari 2012.
10. Pernyataan Sikap PCNU Sampang No. 255/PC/A.2/L-36/I/2012 menyikapi ajaran yang
dibawa oleh saudara Ali Murtadlo/Tajul Muluk.
11. Laporan Hasil Investigasi Kasus Aliran Syi’ah di Kabupaten Sampang Propinsi Jawa
Timur tanggal 9 April 2011.
12. Buku-buku kajian tentang faham Syi’ah antara lain: 1. Al-Milal wa al-Nihal karya al-Syahratstani (hal. 198-203)
2. Al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal karya Ibn Hazm
3. Export Revolusi Syi’ah ke Indonesia karya Achmad Zein Alkaf (al-Bayyinat)
4. Dialog Apa dan Siapa Syi’ah karya Achmad Zein Alkaf (al-Bayyinat)
5. Mengenal Syi’ah Karya Achmad Zein Alkaf (al-Bayyinat)
6. Syi’ah Bukan Islam? Karya Lajnah Ilmiyah HASMI
7. Tulisan Abdurrahman Aziz “Siapakah Pendiri Syi’ah”
Menimbang:
1. Bahwa berdasarkan laporan dari masyarakat dan para ulama di beberapa daerah di Jawa
Timur dinyatakan bahwa faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (menggunakan nama
samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) telah tersebar di beberapa daerah di Jawa
Timur
2. Bahwa adanya indikasi penyebaran faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
(menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) dilakukan secara
masif kepada warga yang menganut faham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah.
3. Bahwa telah ditemukan indikasi di beberapa daerah penyebaran faham Syi’ah Imamiyah
Itsna Asyariyah (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya)
dilakukan kepada warga yang menganut faham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah dari
kalangan tidak mampu disertai dengan pemberian dalam bentuk santunan.
4. Bahwa praktik-praktik penyebaran faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
(menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) yang dilakukan
secara masif terhadap masyarakat yang berfaham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah, jelasjelas berpotensi menyulut keresahan dan konflik horisontal.
5. Bahwa berdasarkan penelitan saat ini tidak kurang dari 63 lembaga berbentuk Yayasan, 8
lembaga Majelis Taklim, 9 organisasi kemasyarakatan, dan 8 Sekolah, atau pesantren
yang ditengarahi mengajarkan/menyebarkan faham Syi’ah.
6. Bahwa konflik-konflik yang melibatkan pengikut faham Syi’ah Imamiyah Itsna
Asyariyah (menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) sudah
sering terjadi dan telah berjalan cukup lama sehingga dibutuhkan adanya upaya
pemecahan yang mendasar dengan memotong sumber masalahnya. Tanpa upaya
pemecahan yang mendasar sangat dimungkinkan konflik akan muncul kembali di
kemudian hari dan bahkan berpotensi menjadi lebih besar.
7. Bahwa diantara ajaran yang dikembangkan oleh faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
(menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) adalah membolehkan
bahkan menganjurkan praktik nikah mut’ah (kawin kontrak) yang sangat berpotensi
digunakan untuk melegetimasi praktik perzinaan, seks bebas, dan prostitusi serta
merupakan bentuk pelecehan terhadap kaum wanita sehingga bila tidak dicegah akan
bertolak belakang dengan upaya pemerintah Provinsi Jawa Timur yang telah
mencanangkan program menata kota bersih asusila dengan menutup tempat-tempat
prostitusi.
8. Bahwa penyebaran faham Syi’ah yang ditujukan kepada pengikut ahlu al-sunnah wa aljama’ah patut diwaspadai adanya agenda-agenda tersembunyi, mengingat penduduk
Indonesia yang berfaham pengikut ahlu al-sunnah wa al-jama’ah tidak cocok apabila
syi’ah dikembangkan di Indonesia.9. Bahwa diperlukan adanya pedoman untuk membentengi aqidah umat dari aliran yang
menyimpang dari faham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian yang luas).
Memperhatikan :
1. Keputusan Fatwa MUI tanggal 7 Maret 1984 tentang Faham Syi’ah yang menyatakan
bahwa faham Syi’ah mempunyai perbedaan pokok dengan Ahlu al-sunnah wa al-jama’ah
yang dianut oleh umat Islam di Indonesia.
2. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia II 26 Mei 2006
tentang Taswiyat al-Manhaj(Penyamaan Pola Pikir Dalam Masalah-masalah Keagamaan)
khususnya butir (4) dan butir (6) yang menyatakan bahwa perbedaan yang dapat ditolerir
adalah perbedaan yang berada di dalam majal al-ikhtilaf (wilayah perbedaan) yaitu
wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana alaihi wa ashhaby yakni
faham keagamaan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian luas), sedangkan di
luarmajal al-ikhtilaf tidak dikategorikan sebagai perbedaan, melainkan penyimpangan.
3. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia II 26 Mei 2006 tentang
Peneguhan Bentuk dan Eksistensi NKRI.
4. Keputusan MUI tertanggal 6 Nopember 2007 tentang 10 kriteria aliran
sesat/menyimpang.
5. Telaah terhadap kitab yang menjadi rujukan dari faham syi’ah antara lain:
1. al-Kafi
2. Tahdzib al-Ahkam
3. al-Istibshar
4. Man La Yahdluru al-Faqih
5. Buku-buku Syi’ah yang lain seperti: Bihar al-Anwar, Tafsir al-Qummi, Fashl alkhithab fi itsbati tahrifi kitabi rabbi al-Arbab, Kasyfu al-Asrar li al-Musawi.
6. Buku-buku Syi’ah berbahasa Indonesia antara lain: Saqifah Awal Perselisihan
Umat tulisan O. Hashem; Shalat Dalam Madzhab Ahlul Bait tulisan Hiayatullah
Husein al Habsyi; Keluarga Suci Nabi Tulisan Ali Umar al-Habsyi
Berdasarkan kitab-kitab tersebut dapat diketahui adanya perbedaan yang mendasar dengan ahlu
al-sunnah wa al-jama’ah (dalam pengertian luas) tidak saja pada masalah furu’iyah tetapi juga
pada masalah ushuliyah (masalah pokok dalam ajaran Islam) diantaranya:
1. Hadits menurut faham Syi’ah berbeda dengan pengertian ahlu al-sunnah. Menurut Syi’ah
hadits meliputi af’al, aqwal, dan taqrir yang disandarkan tidak hanya kepada Nabi
Muhammad Saw tetapi juga para imam-imam Syi’ah.
2. Faham syi’ah meyakini bahwa imam-imam adalah ma’shum seperti para nabi.
3. Faham Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan Imamah) termasuk
masalah aqidah dalam agama.
4. Faham Syi’ah mengingkari Otentisitas Al-Qur’an dengan mengimani adanya tahrif alQur’an
أ. ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﻗﺎل: ﺳﻤﻌﺖ اﺑﺎ ﺟﻌﻔﺮ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﯾﻘﻮل: ﻣﺎ ادﻋﻲ أﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺎس أﻧﮫ ﺟﻤﻊ اﻟﻘﺮان ﻛﻠﮫ ﻛﻤﺎ أﻧﺰل إﻻ ﻛﺬاب , وﻣﺎ
ﺟﻤﻌﮫ وﺣﻔﻈﮫ ﻛﻤﺎ ﻧﺰل ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻲ إﻻ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ اﺑﻲ طﺎﻟﺐ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم و اﻻﺋﻤﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪه ﻋﻠﯿﮭﻢ اﻟﺴﻼم (اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج1/ص
(284ب. ﻋﻦ اﺑﻲ ﺟﻌﻔﺮ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم اﻧﮫ ﻗﺎل: ﻣﺎ ﯾﺴﺘﻄﯿﻊ اﺣﺪ ان ﯾﺪﻋّﻲ أن ﻋﻨﺪه ﺟﻤﯿﻊ اﻟﻘﺮان ﻛﻠﮫ ظﺎھﺮه وﺑﺎطﻨﮫ ﻏﯿﺮ اﻻوﺻﯿﺎء
(اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج1/ص 285 -284)
ت. ﻋﻦ اﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﻗﺎل: ان اﻟﻘﺮان اﻟﺬي ﺟﺎء ﺑﮫ ﺟﺒﺮﯾﻞ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم إﻟﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ ﺳﺒﻌﺔ ﻋﺸﺮ
أﻟﻒ آﯾﺔ (اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج2/ﺑﺎب اﻟﻨﻮادر, رﻗﻢ 28)
1. Faham Syi’ah meyakini turunnya wahyu setelah al-Qur’an yakni yang disebut mushaf
Fatimah
أ. إن ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻤﺎ ﻗﺒﺾ ﻧﺒﯿﮫ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ دﺧﻞ ﻋﻠﻰ ﻓﺎطﻤﺔ ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم ﻣﻦ وﻓﺎﺗﮫ ﻣﻦ اﻟﺤﺰن ﻣﺎ ﻻ ﯾﻌﻠﻤﮫ إﻻ ﷲ
ﻋﺰوﺟﻞ ﻓﺄرﺳﻞ ﷲ إﻟﯿﮭﺎ ﻣﻠﻜﺎ ﯾﺴﻠﻲ ﻏﻤﮭﺎ وﯾﺤﺪﺛﮭﺎ، ﻓﺸﻜﺖ ذﻟﻚ إﻟﻰ أﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﻓﻘﺎل: إذا أﺣﺴﺴﺖ ﺑﺬﻟﻚ وﺳﻤﻌﺖ
اﻟﺼﻮت ﻗﻮﻟﻲ ﻟﻲ ﻓﺄﻋﻠﻤﺘﮫ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﺠﻌﻞ أﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﯾﻜﺘﺐ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺳﻤﻊ ﺣﺘﻰ أﺛﺒﺖ ﻣﻦ ذﻟﻚ ﻣﺼﺤﻔﺎ ﻗﺎل: ﺛﻢ ﻗﺎل: أﻣﺎ
إﻧﮫ ﻟﯿﺲ ﻓﯿﮫ ﺷﺊ ﻣﻦ اﻟﺤﻼل واﻟﺤﺮام وﻟﻜﻦ ﻓﯿﮫ ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﯾﻜﻮن (اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج1/ص 296)
ب. وإن ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻟﻤﺼﺤﻒ ﻓﺎطﻤﺔ ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم وﻣﺎ ﯾﺪرﯾﮭﻢ ﻣﺎ ﻣﺼﺤﻒ ﻓﺎطﻤﺔ ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم؟ ﻗﺎل: ﻗﻠﺖ: وﻣﺎ ﻣﺼﺤﻒ ﻓﺎطﻤﺔ
ﻋﻠﯿﮭﺎ اﻟﺴﻼم؟ ﻗﺎل: ﻣﺼﺤﻒ ﻓﯿﮫ ﻣﺜﻞ ﻗﺮآﻧﻜﻢ ھﺬا ﺛﻼث ﻣﺮات، وﷲ ﻣﺎ ﻓﯿﮫ ﻣﻦ ﻗﺮآﻧﻜﻢ ﺣﺮف (اﺻﻮل اﻟﻜﺎﻓﻲ ج1/ص 290)
1. Syi’ah banyak melakukan penafsiran al-Qur’an yang mendukung faham mereka antara
lain melecehkan sahabat Nabi Saw. Misalnya penulis Tafsir al-Qummi menafsirkan
kalimat dalam surat al-Hajj ayat 52
أ َﻟ ْﻘَﻰ اﻟﺸ ﱠﯿْﻄَﺎن ُ ﻓِﻲ أ ُﻣْﻨِﯿﱠﺘِﮫِ : ﯾﻌﻨﻲ أﺑﺎ ﺑﻜﺮ وﻋﻤﺮ (ﺗﻔﺴﯿﺮ اﻟﻘﻤﻲ ص. 259)
1. Syi’ah meyakini bahwa para sahabat telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah Saw,
kecuali tiga orang.
ﻋﻦ أﺑﻲ ﺟﻌﻔﺮ ﻗﺎل : ﻛﺎن اﻟﻨﺎس أھﻞ ردة ﺑﻌﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ إﻻ ﺛﻼﺛﺔ ﻓﻘﻠﺖ: وﻣﻦ اﻟﺜﻼﺛﺔ؟ ﻓﻘﺎل: اﻟﻤﻘﺪاد ﺑﻦ اﻷﺳﻮد وأﺑﻮ
ذر اﻟﻐﻔﺎري و ﺳﻠﻤﺎن اﻟﻔﺎرﺳﻲ رﺣﻤﺔ ﷲ وﺑﺮﻛﺎﺗﮫ ﻋﻠﯿﮭﻢ (روﺿﺔ اﻟﻜﺎﻓﻲ ص 198 ر. 341, ﺑﺤﺎر اﻻﻧﻮار ج 22/ ص333)
1. Faham Syi’ah meyakini bahwa orang yang tidak mengimani terhadap imam-imam Syi’ah
adalah syirik dan kafir
إﻋﻠﻢ أن إطﻼق ﻟﻔﻆ اﻟﺸﺮك واﻟﻜﻔﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻟﻢ ﯾﻌﺘﻘﺪ ﺑﺈﻣﺎﻣﺔ أﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ واﻻﺋﻤﺔﻣﻦ وﻟﺪه ﻋﻠﯿﮭﻢ اﻟﺴﻼم وﻓﻀّﻞ ﻋﻠﯿﮭﻢ ﻏﯿﺮھﻢ
ﯾﺪل ﻋﻠﻰ أﻧﮭﻢ ﻛﻔﺎر ﻣﺨﻠﺪون ﻓﻲ اﻟﻨﺎر ( ﺑﺤﺎر اﻻﻧﻮار ج 23/ ص390)
1. Faham Syi’ah melecehkan sahabat Nabi Saw. Termasuk Abu Bakar ra dan Umar ra.
أ. وﻣﻦ اﻟﺠﺒﺖ أﺑﻮ ﺑﻜﺮ وﻣﻦ اﻟﻄﺎﻏﻮت ﻋﻤﺮ واﻟﺸﯿﺎطﯿﻦ ﺑﻨﻲ اﻣﯿﺔ وﺑﻨﻲ اﻟﻌﺒﺎس (ﺷﺮح اﻟﺰﯾﺎرة اﻟﺠﺎﻣﻌﺔ اﻟﻜﺒﯿﺮة ج
(156ص/3
ب. وإن اﻟﺸﯿﺨﯿﻦ (- أﺑﺎ ﺑﻜﺮ وﻋﻤﺮ- ) ﻓﺎرﻗﺎ اﻟﺪﻧﯿﺎ وﻟﻢ ﯾﺘﻮﺑﺎ وﻟﻢ ﯾﺘﺬﻛﺮا ﻣﺎ ﺻﻨﻌﺎ ﺑﺄﻣﯿﺮ اﻟﻤﺆﻣﻨﯿﻦ ﻓﻌﻠﯿﮭﻤﺎ ﻟﻌﻨﺔ ﷲ واﻟﻤﻼﺋﻜﺔ
واﻟﻨﺎس أﺟﻤﻌﯿﻦ (روﺿﺔ اﻟﻜﺎﻓﻲ/ ص 198, رﻗﻢ 343 ؛ ﻛﺸﻒ اﻷﺳﺮار وﺗﺒﺮﺋﺔ اﻷﺋﻤﺔ اﻷطﮭﺎر ص 84)
1. Faham Syi’ah meyakini bahwa orang yang selain Syi’ah adalah keturunan pelacur
وﷲ ﯾﺎ أﺑﺎ ﺣﻤﺰة إن اﻟﻨﺎس ﻛﻠﮭﻢ أوﻻد ﺑﻐﺎﯾﺎ ﻣﺎ ﺧﻼ ﺷﯿﻌﺘﻨﺎ (روﺿﺔ اﻟﻜﺎﻓﻲ: ص 227 رﻗﻢ 431)1. Faham Syi’ah membolehkan bahkan mengaىjurkan praktik nikah mut’ah.
اﻟ ْﺒَﺎط ِﻞَ ﻣ َﺎ ﻗَﺎل َ ﺻ َﺎﺣ ِﺒُﻚ َ ﻗَ ﺎل َ ﻓَﺄ َﻗ ْﺒَﻞ َ ﻋَﺒ ْﺪُ ﷲ ﱠ ِ ﺑْﻦ ُ ﻋُﻤ َﯿْﺮ ٍ ﻓَﻘَﺎل َ ﯾَﺴُﺮﱡكَ أ َن ﱠ ﻧِﺴَﺎء َكَ و َ ﺑَﻨَﺎﺗِﻚ َ و َ أ َﺧَﻮ َاﺗِﻚ َ و َ ﺑَﻨَﺎتِ ﻋَﻤ ﱢﻚَ ﯾَﻔ ْﻌَﻠ ْﻦ َ ﻗَﺎلَ ﻓَﺄ َﻋْﺮ َض َ
ﻋَﻨ ْﮫُ أ َﺑُﻮ ﺟ َﻌْﻔَﺮ ٍ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﺣ ِﯿﻦ َ ذَﻛَﺮ َ ﻧِﺴَﺎء َهُ و َ ﺑَﻨَﺎتِ ﻋَﻤ ﱢﮫِ (ﻓﺮوع اﻟﻜﺎﻓﻲ ج 3/ص 455)
أ. ﻋَﻦ ْ ز ُر َار َةَ ﻗَﺎل َ ﺟ َﺎء َ ﻋَﺒْﺪُ ﷲ ﱠ ِ ﺑْﻦ ُ ﻋُﻤ َﯿْﺮ ٍ اﻟﻠ ﱠﯿْﺜِﻲ ﱡ إ ِﻟَﻰ أ َﺑ ِﻲﺟ َﻌْﻔَﺮ ٍ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم ﻓَﻘَﺎل َ ﻟَﮫُ ﻣ َﺎ ﺗَﻘ ُﻮلُ ﻓِﻲ ﻣُﺘ ْﻌَﺔِ اﻟﻨﱢﺴَﺎءِ ﻓَﻘَﺎل َ أ َﺣَﻠ ﱠﮭَﺎ
ﷲ ﱠ ُ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑ ِﮫِ و َ ﻋَﻠَﻰ ﻟِﺴَﺎن ِ ﻧَﺒ ِﯿﱢﮫِ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫﻓَ ﮭ ِﻲ َ ﺣَﻼ َ لٌ إ ِﻟَﻰ ﯾَﻮْم ِ اﻟ ْﻘِﯿَﺎﻣ َﺔِ ﻓَﻘَﺎلَ ﯾَﺎ أ َﺑَﺎ ﺟَﻌْﻔَﺮ ٍ ﻣِﺜ ْﻠ ُﻚَ ﯾَﻘ ُﻮلُ ھَﺬَا و َ ﻗَﺪْ ﺣَﺮﱠﻣ َﮭَﺎ ﻋُﻤ َﺮُ
و َ ﻧَﮭَﻰ ﻋَﻨ ْﮭَﺎ ﻓَﻘَ ﺎل َ و َ إ ِن ْ ﻛَﺎن َ ﻓَﻌَﻞ َ ﻗَﺎل َ إ ِﻧﱢﻲ أ ُﻋ ِﯿﺬ ُكَ ﺑ ِﺎͿ ﱠ ِ ﻣِﻦ ْ ذَﻟِﻚ َ أ َن ْ ﺗُﺤ ِ ﻞﱠ ﺷَﯿْﺌﺎ ً ﺣَ ﺮﱠﻣ َﮫُ ﻋُﻤ َ ﺮُ ﻗَﺎل َ ﻓَﻘَﺎ ل َ ﻟَﮫُ ﻓَﺄ َﻧ ْﺖ َ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮ ْ ل ِ ﺻ َﺎﺣ ِﺒ ِﻚَ و َ أ َﻧَﺎ
ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮ ْ ل ِ رَﺳُﻮل ِ ﷲ ﱠ ِ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ ﻓَﮭَﻠ ُﻢﱠ أ ُﻻ َ ﻋِﻨ ْﻚَ أ َن ﱠ اﻟ ْﻘَﻮ ْ لَ ﻣ َﺎ ﻗَﺎلَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫو َ أ َنﱠ
ب. اﻟ ْﺤُﺴَﯿْﻦ ُ ﺑْﻦ ُ ﻣُﺤَﻤﱠﺪٍ ﻋَﻦ ْ أ َﺣْﻤ َﺪَ ﺑْﻦ ِ إ ِﺳْﺤ َﺎقَ ﻋَﻦ ْ ﺳَﻌْﺪَان َ ﺑْﻦ ِ ﻣُﺴْﻠِﻢ ٍ ﻋَﻦ ْ ﻋُﺒَﯿْﺪِ ﺑْﻦ ِ زُر َار َةَ ﻋَﻦ ْ أ َﺑ ِﯿﮫِ ﻋَﻦ ْ أ َﺑ ِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﷲ ﱠ ِ ﻋﻠﯿﮫ اﻟﺴﻼم
ﻗَﺎل َ ذَﻛَﺮ ْ ت ُ ﻟَ ﮫُ اﻟ ْﻤُﺘ ْﻌَﺔَ أ َ ھِﻲ َ ﻣِﻦ َ اﻷ ْ َر ْﺑَﻊ ِ ﻓَﻘَﺎل َ ﺗَﺰَوﱠجْ ﻣِﻨ ْﮭُﻦ ﱠ أ َﻟ ْﻔﺎ ً ﻓَﺈ ِﻧ ﱠﮭُﻦ ﱠ ﻣُﺴْﺘَﺄ ْﺟ َﺮ َات ٌ (ﻓﺮوع اﻟﻜﺎﻓﻲ ج 3/ص 458)
1. Ajaran Syi’ah menghalalkan darah ahlu al-sunah
وﻟﮭﺬا أﺑﺎﺣﻮا دﻣﺎء أھﻞ اﻟﺴﻨﺔ وأﻣﻮاﻟﮭﻢ ﻓﻌﻦ داود ﺑﻦ ﻓﺮﻗﺪ ﻗﺎل: ﻗﻠﺖ ﻷﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﷲ ﻣﺎ ﺗﻘﻮل ﻓﻲ ﻗﺘﻞ اﻟﻨﺎﺻﺐ؟: ﻗﺎل: ﺣﻼل اﻟﺪم،
وﻟﻜﻨﻲ أﺗﻘﻲ ﻋﻠﯿﻚ، ﻓﺈن ﻗﺪرت أن ﺗﻘﻠﺐ ﻋﻠﯿﮫ ﺣﺎﺋﻄ ًﺎ أو ﺗﻐﺮﻗﮫ ﻓﻲ ﻣﺎء ﻟﻜﯿﻼ ﯾﺸﮭﺪ ﻋﻠﯿﻚ ﻓﺎﻓﻌﻞ (ﻛﺸﻒ اﻷﺳﺮار وﺗﺒﺮﺋﺔ اﻷﺋﻤﺔ
اﻷطﮭﺎر ص 85 ؛ ﺑﺤﺎر اﻷﻧﻮار ج231 /27)
1. Ajaran Syi’ah melecehkan Nabi dan Ummul Mu’minin
إن اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ ﻻ ﺑﺪ أن ﯾﺪﺧﻞ ﻓﺮﺟﮫ اﻟﻨﺎر، ﻷﻧﮫ وطﺊ ﺑﻌﺾ اﻟﻤﺸﺮﻛﺎت) ﯾﺮﯾﺪ ﺑﺬﻟﻚ زواﺟﮫ ﻣﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ وﺣﻔﺼﺔ،
وھﺬا ﻛﻤﺎ ھﻮ ﻣﻌﻠﻮم ﻓﯿﮫ إﺳﺎءة إﻟﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ، ﻷﻧﮫ ﻟﻮ ﻛﺎن ﻓﺮج رﺳﻮل ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وآﻟﮫ ﯾﺪﺧﻞ اﻟﻨﺎر ﻓﻠﻦ
ﯾﺪﺧﻞ اﻟﺠﻨﺔ أﺣﺪ أﺑﺪًا (ﻛﺸﻒ اﻷﺳﺮار وﺗﺒﺮﺋﺔ اﻷﺋﻤﺔ اﻷطﮭﺎر ص 25 -24)
1. Ajaran Syi’ah juga mempunyai doktrin Thinah (thinat al-mu’min wa al-kafir) yaitu
doktrin yang menyatakanan bahwa dalam penciptaan manusia ada unsur tanah putih dan
tanah hitam. Pengikut Syi’ah tercipta dari unsur tanah putih sedangkan Ahlu al-sunnah
berasal dari tanah hitam. Para pengikut Syi’ah yang tersusun dari tanah putih jika
melakukan perbuatan maksiat dosanya akan ditimpakan kepada pengikut ahlu al-sunnah
(yang tersusun dari tanah hitam) sebaliknya pahala yang dimiliki oleh pengikut Ahlu alsunnah akan diberikan kepada para pegikut Syi’ah. Doktrin ini merupakan doktrin yang
tersembunyi dalam ajaran Syi’ah. (al-Kafi Juz II / Kitab al-Iman, bab thinat al-mu’min
wa al-kafir)
2. Dan masih banyak lagi keganjilan yang lain
3. Adanya fakta para pengikut Syi’ah menjadikan buku-buku sebagaimana tersebut pada
butir 5 sebagai kitab rujukannya.
4. Keputusan Fatwa MUI Kabupaten Sampang No. A-035/MUI/Spg/I/2012 tentang Ajaran
Yang Disebarluaskan Sdr Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.
5. Keputusan Rapat Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat
(BAKOR PAKEM) Kabupaten Sampang tanggal 04 Januari 2012 tentang kesesatan
ajaran yang disebar luaskan oleh sdr Tajul Muluk.
6. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten Se Koordinatoriat Wilayah (KORWIL)
Madura No. 01/MUI/KD/MDR/I/2012 tentang Ajaran Syi’ah atau aliran Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariyah7. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
(KORWIL) Malang No. 13/Korwil-IV/MLG/I/2012 tentang Pengukuhan Fatwa
Kesesatan Ajaran Syi’ah;
8. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
(KORWIL) Besuki No. 01/MUI/Besuki/I/2012 tentang Ajaran Syi’ah atau aliran Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariyah
9. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
(KORWIL) Surabaya tentang Ajaran Syi’ah atau aliran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
10. Keputusan Rapat Koordinasi MUI Kabupaten/Kota Se Koordinatoriat Wilayah
(KORWIL) Bojonegoro No. Kep-01/MUI/KORDA-BJN/I/2012 tentang Ajaran Syi’ah
atau aliran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah
11. Berbagai kajian yang dilakukan oleh para ahli dan para pengamat terkait aliran Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariyah, faham, pemikiran, dan aktivitasnya diantaranya Pendapat
Prof. Dr. Muhammad Baharun yang menyatakan bahwa Syi’ah dan Ahlu al-Sunnah tidak
mungkin disatukan.
12. Surat Edaran Kementerian Agama No: BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983
tentang Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah
13. Surat Edaran Pengurus Besar Nahdhatul Ulama No:724/A.II.03/10/1997 tentang seruan
agar kaum Muslimin memahami secara jelas perbedaan prinsipil antara Ahlu al-sunnah
wa al-jama’ah dengan Syi’ah.
14. Kesimpulan Hasil Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah pada tanggal 21 September
1997di Masjid Istiqlal Jakarta .
15. Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 28 huruf J
16. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 73
17. Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau
Penodaan Agama.
18. Berbagai pendapat yang berkembang dalam rapat tanggal 21 Januari 2012 yang dihadiri
oleh beberapa wakil dari MUI Kabupaten/Kota di Jawa Timur (MUI Kab. Jember, MUI
Kab Pasuruan, MUI Kab. Malang, MUI Kab. Sampang, MUI Kota Surabaya, MUI Kab.
Tuban, MUI Kab. Bojonegoro, MUI Kab. Ponorogo, MUI Kab. Blitar) dan beberapa
ormas Islam.
19. Telaah terhadap dokumen-dokumen dalam bentuk VCD/CD antara lain yang
mengandung hujatan terhadap sahabat nabi, Perayaan Haul Arbain, Arbain Imam Husain,
dan Acara Syi’ah di Gereja Bergzicht Lawang.
20. Pedoman dan Prosedur Penetapan Fatwa MUI
Mengingat:
1. Firman Allah dalam al-Qur’an:
1. Firman Allah Surat al-Baqarah ayat 177
ﻟَﯿْﺲ َ اﻟ ْﺒ ِﺮﱠ أ َن ْ ﺗُﻮ َ ﻟ ﱡﻮا وُﺟُﻮھَﻜ ُﻢْ ﻗِﺒَﻞ َ اﻟ ْﻤ َﺸ ْﺮ ِق ِ و َ اﻟ ْﻤ َﻐ ْﺮ ِبِ و َﻟَﻜِﻦ ﱠ اﻟ ْﺒ ِﺮﱠ ﻣ َﻦ ْ ء َاﻣ َﻦ َ ﺑ ِﺎͿ ﱠ ِ و َاﻟ ْﯿَ ﻮ ْ م ِ اﻵ ْ ﺧ ِﺮ ِ و َ اﻟ ْﻤ َﻼ َ ﺋِﻜَﺔِ و َ اﻟ ْﻜِﺘَﺎبِ و َ اﻟﻨ ﱠﺒ ِﯿﱢﯿﻦ َ و َ ء َاﺗَﻰ
اﻟ ْﻤ َﺎل َ ﻋَﻠَﻰ ﺣُﺒﱢﮫِ ذَو ِي اﻟ ْﻘ ُﺮ ْ ﺑَﻰ و َ اﻟ ْﯿَﺘَﺎﻣ َﻰ و َ اﻟ ْﻤ َﺴَ ﺎﻛِﯿﻦ َ و َاﺑْﻦ َ اﻟﺴﱠﺒ ِﯿﻞ ِ و َاﻟﺴﱠﺎﺋِﻠِﯿﻦ َ و َ ﻓِﻲ اﻟﺮﱢﻗَﺎبِ و َ أ َﻗَﺎم َ اﻟﺼﱠﻼ َ ةَ و َء َاﺗَﻰ اﻟﺰ ﱠﻛَﺎةَ و َ اﻟ ْﻤُﻮﻓ ُﻮن َ
ﺑ ِﻌَﮭْﺪِھِﻢْ إ ِذَا ﻋَﺎ ھَﺪُوا و َاﻟﺼﱠﺎﺑ ِﺮ ِﯾﻦ َ ﻓِﻲ اﻟ ْﺒَﺄ ْﺳَﺎء ِ و َ اﻟﻀﱠﺮﱠاءِ و َﺣِﯿﻦ َ اﻟ ْﺒَﺄ ْس ِ أ ُوﻟَﺌِﻚَ اﻟ ﱠﺬِﯾﻦ َ ﺻَﺪَﻗ ُﻮا و َ أ ُوﻟَﺌِﻚ َ ھُﻢُ ا ﻟ ْﻤُﺘ ﱠﻘ ُﻮن َ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang
dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan
pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
1. Firman Allah Surat al-Qamar ayat 49
إ ِﻧﱠﺎ ﻛُﻞﱠ ﺷَﻲ ْ ءٍ ﺧَﻠَﻘ ْﻨَﺎهُ ﺑ ِﻘَﺪَر ٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
1. Firman Allah Surat al-Hijr ayat 9
إ ِﻧ ﱠﺎ ﻧَﺤ ْ ﻦ ُ ﻧَﺰ ﱠﻟ ْﻨَﺎ اﻟﺬ ﱢﻛ ْﺮ َ و َإ ِﻧ ﱠﺎ ﻟَﮫُ ﻟَﺤ َ ﺎﻓِﻈ ُﻮنَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.
1. Firman Allah Surat al-Fath ayat 29
ﻣُﺤ َﻤﱠﺪٌ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ و َاﻟ ﱠﺬِﯾﻦ َ ﻣ َﻌَﮫُ أ َﺷ ِﺪﱠاءُ ﻋَﻠَﻰ اﻟ ْﻜُﻔ ﱠﺎر ِ رُﺣ َ ﻤ َﺎءُ ﺑَﯿْﻨَﮭُﻢْ ﺗَﺮ َاھُﻢْ رُﻛ ﱠﻌًﺎ ﺳُﺠﱠﺪًا ﯾَ ﺒْﺘَﻐُﻮن َ ﻓَﻀْﻼ ً ﻣِﻦ َ ﷲ ﱠ ِ و َر ِﺿ ْﻮ َاﻧًﺎ ﺳ ِﯿﻤ َﺎھُﻢْ ﻓِ ﻲ
وُﺟُﻮھِﮭ ِﻢْ ﻣِﻦ ْ أ َﺛَﺮ ِ اﻟﺴﱡﺠُﻮدِ ذَﻟِﻚَ ﻣ َﺜَﻠ ُﮭُﻢْ ﻓِﻲ اﻟﺘ ﱠﻮ ْ ر َاةِ و َ ﻣ َﺜَﻠ ُﮭُﻢْ ﻓِﻲ اﻹ ْ ِ ﻧ ْﺠ ِ ﯿﻞ ِ ﻛَﺰَرْع ٍ أ َﺧ ْﺮَج َ ﺷَﻄ ْﺄ َهُ ﻓَﺂزَر َ هُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐ ْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮ َى ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﮫِ ﯾُﻌْﺠ ِﺐ ُ
اﻟﺰ ﱡرﱠاعَ ﻟِﯿَﻐ ِﯿﻆَ ﺑ ِﮭ ِﻢُ اﻟ ْﻜ ُﻔ ﱠﺎر َ و َ ﻋَﺪَ ﷲ ﱠ ُ اﻟ ﱠﺬِﯾﻦ َ ء َ اﻣ َﻨُﻮا و َ ﻋَﻤِﻠ ُﻮا اﻟﺼﱠﺎﻟِﺤ َﺎتِ ﻣِﻨ ْﮭُﻢْ ﻣ َﻐ ْﻔِﺮ َةً و َ أ َﺟ ْ ﺮًا ﻋَﻈ ِﯿﻤ ًﺎ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan
sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat
lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
1. Firman Allah Surat al-Taubah ayat 100
و َاﻟﺴﱠﺎﺑ ِﻘ ُﻮ ن َ اﻷ ْ َوﱠﻟ ُﻮن َ ﻣِﻦ َ اﻟ ْﻤُﮭَﺎﺟ ِﺮ ِﯾﻦ َ و َ اﻷ ْ َﻧ ْﺼ َﺎر ِ و َ اﻟ ﱠﺬِﯾﻦ َ اﺗ ﱠﺒَﻌُﻮھُﻢْ ﺑ ِﺈ ِﺣ ْ ﺴَﺎن ٍ ر َﺿ ِﻲ َ ﷲ ﱠ ُ ﻋَ ﻨ ْﮭُﻢْ و َر َﺿُﻮا ﻋَﻨ ْﮫُ و َ أ َﻋَﺪﱠ ﻟَﮭُﻢْ ﺟ َﻨ ﱠﺎتٍ ﺗَﺠ ْ ﺮ ِي ﺗَﺤْﺘَﮭَﺎ
اﻷ ْ َﻧ ْﮭَﺎرُ ﺧَﺎﻟِﺪِﯾﻦ َ ﻓِﯿﮭَﺎ أ َﺑَﺪًا ذَﻟِﻚَ اﻟ ْﻔَﻮ ْ ز ُ اﻟ ْﻌَﻈ ِﯿﻢُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga
yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang besar.
1. Hadits-hadits Marfu
أ. ﻗَﺎلَ ﻓَﺄ َﺧ ْ ﺒ ِﺮْﻧِﻲ ﻋَﻦ ِ اﻹ ْ ِ ﯾﻤ َﺎن ِ ﻗَﺎلَ أ َن ْ ﺗُﺆ ْ ﻣِﻦ َ ﺑ ِﺎͿ ﱠ ِ و َ ﻣ َﻼ َ ﺋِﻜَﺘِﮫِ و َ ﻛ ُﺘُﺒ ِﮫِ و َرُﺳُﻠِﮫِ و َ اﻟ ْﯿَﻮ ْ م ِ اﻵ ْ ﺧِﺮ ِ و َ ﺗُﺆ ْﻣِﻦ َ ﺑ ِﺎﻟ ْﻘَﺪَر ِ ﺧَﯿْﺮ ِهِ و َﺷَﺮﱢهِ (رواه
ﻣﺴﻠﻢ)
Bertanya Jibril as: Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan
engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” (Shahih Muslim Jilid I/hal 23)
ب. ﺑُﻨِﻲ َ اﻹ ْ ِ ﺳْﻼ َ مُ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻤْﺲ ٍ ﺷَﮭَﺎدَةِ أ َ ن ْ ﻻ َ إ ِﻟَ ﮫَ إ ِﻻ ﱠ ﷲ ﱠ ُ و َأ َنﱠ ﻣُﺤ َﻤﱠﺪًا ر َﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ و َإ ِﻗَﺎم ِ اﻟﺼﱠﻼ َ ةِ و َ إ ِﯾﺘَﺎءِ اﻟﺰ ﱠﻛَﺎةِ و َ اﻟ ْﺤ َ ﺞﱢ و َﺻ َﻮ ْم ِ رَﻣ َﻀ َﺎن َ
(رواه اﻟﺒﺨﺎري
Islam Dibangun Diatas Lima (Landasan); Persaksian Tidak Ada Ilah Melainkan Allah Dan
Sesungguhnya Muhammad Utusan Allah, Mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat, Haji Dan
Puasa Ramadlan (Shahih al-Bukhari, Juz I/hal 54 hadits No.8)
ت. ﻣ َﻦ ْ ﻗَﺎل َ ﻓِﻲ اﻟ ْﻘ ُﺮ ْآن ِ ﺑ ِﻐَﯿْﺮ ِ ﻋ ِﻠ ْﻢ ٍ ﻓَﻠ ْﯿَﺘَﺒَﻮﱠأ ْ ﻣ َﻘ ْﻌَﺪَهُ ﻣِﻦ َ اﻟﻨﱠﺎر ِ
Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an tanpa ilmu (yang memadai) maka hendaklah dia
mempersiapkan kedudukannya di neraka” (HR al-Tirmidzi/Sunan al-Tirmidzi V/1999 No. 2950)
ث. و َﻣ َﻦ ْ ﻗَﺎل َ ﻓِﻲ اﻟ ْﻘ ُﺮ ْآن ِ ﺑ ِﺮ َأ ْ ﯾ ِﮫِ ﻓَﻠ ْﯿَﺘَﺒَﻮﱠأ ْ ﻣ َﻘ ْﻌَﺪَهُ ﻣِﻦ َ اﻟﻨﱠﺎر ِ
“Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an berdasarkan nalarnya saja maka hendaklah dia
mempersiapkan kedudukannya di neraka” (HR al- Tirmidzi/Sunan al-Tirmidzi V/1999 hadits
No. 2951)
ج. ﻗَﺎل َ ر َ ﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻَﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َﺳَﻠ ﱠﻢ َ ﻻ َ ﺗَﺴُﺒﱡﻮا أ َﺻ ْ ﺤ َﺎﺑ ِﻲ ﻓَﻮ َ اﻟ ﱠﺬِي ﻧَﻔ ْﺴ ِﻲ ﺑ ِﯿَﺪِ هِ ﻟَﻮْ أ َن ﱠ أ َﺣ َﺪَﻛ ُﻢْ أ َﻧ ْﻔَﻖَ ﻣِﺜ ْﻞَ أ ُﺣُﺪٍ ذَھَﺒًﺎ ﻣ َ ﺎ أ َدْر َكَ ﻣُﺪﱠ
أ َﺣَﺪِھِﻢْ و َﻻ َ ﻧَﺼِﯿﻔَﮫُ
Telah bersabda Rasulullah Saw: “Janganlah kalian mencerca para shahabatku. Demi Dzat yang
jiwaku ada di tangan-Nya, kalau seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar
gunung Uhud maka tidak akan dapat menandingi satu mud dari mereka bahkan tidak pula
setengahnya” (HR. Al-Bukhari, dalam Shahih al-Bukhari Juz II/hal 347 No. 3546; Muslim,
dalam Shahih Muslim Jilid II hal.1171; dan al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696
hadits No. 3761)
ح. ﻗَﺎل َ ر َﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻ َﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َ ﺳَﻠ ﱠﻢ َ ﷲ ﱠ َ ﷲ ﱠ َ ﻓِﻲ أ َﺻ ْ ﺤ َﺎﺑ ِﻲ ﷲ ﱠ َ ﷲ ﱠ َ ﻓِﻲ أ َﺻ ْ ﺤ َﺎﺑ ِﻲ ﻻ َ ﺗَﺘ ﱠ ﺨ ِﺬ ُوھُﻢْ ﻏَﺮ َﺿًﺎ ﺑَﻌْﺪِي ﻓَﻤ َﻦ ْ أ َﺣ َﺒﱠﮭُﻢْ ﻓَﺒ ِﺤُﺒﱢﻲ
أ َﺣ َﺒﱠﮭُﻢْ و َﻣ َﻦ ْ أ َﺑْﻐَﻀ َﮭُﻢْ ﻓَﺒ ِﺒُﻐ ْﻀ ِﻲ أ َﺑْﻐَﻀ َﮭُﻢْ و َﻣ َﻦ ْ آ ذَاھُﻢْ ﻓَﻘَﺪْ آذَاﻧِﻲ و َ ﻣ َﻦ ْ آذَاﻧِﻲ ﻓَﻘَﺪْ آذَى ﷲ ﱠ َ و َﻣ َﻦ ْ آذَى ﷲ ﱠ َ ﯾُﻮﺷِﻚُ أ َن ْ ﯾَﺄ ْﺧ ُﺬَهُ
Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu
menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka
berarti semata-mata karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah
menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan
barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menghukumnya. (HR al-Tirmidzi
dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762)
خ. ﻋﻦ ﻋُﻮ َ ﯾْﻢ ِ ﺑْﻦ ِ ﺳَﺎﻋ ِﺪَةَ أ َن ﱠ ر َﺳُﻮل َ ﷲ ﱠ ِ ﻗَﺎل َ : “ إ ِن ﱠ ﷲ ﱠ َ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ اﺧ ْ ﺘَﺎرَﻧِﻲ، و َ اﺧ ْ ﺘَﺎر َ ﻟِﻲ أ َﺻ ْ ﺤ َﺎﺑًﺎ، ﻓَﺠ َ ﻌَﻞ َ ﻟِﻲ ﻣِﻨ ْﮭُﻢْ وُزَر َاء َ و َأ َﻧ ْﺼ َﺎرًا
و َأ َﺻ ْﮭَﺎرًا، ﻓَﻤ َﻦ ْ ﺳَﺒﱠﮭُﻢْ ﻓَﻌَﻠَﯿْﮫِ ﻟَﻌْﻨَﺔ ُ ﷲ ﱠ ِ، و َاﻟ ْﻤ َﻼ َ ﺋِﻜَﺔِ، و َ ا ﻟﻨﱠﺎس ِ أ َﺟْﻤ َﻌِﯿﻦ َ ، ﻻ َ ﯾﻘ ْﺒَﻞُ ﷲ ﻣِﻨ ْﮫُ ﯾَﻮ ْ م َ اﻟ ْﻘِﯿَﺎﻣ َﺔِ ﺻَﺮ ْﻓﺎ و َ ﻻ َ ﻋَﺪْﻻ.( أﺧﺮﺟﮫ اﺑﻮ ﻧﻌﯿﻢ
ﻓﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ج3/ص 1745: رﻗﻢ 4424 ؛ واﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷوﺳﻂ ج1 / ص 272 رﻗﻢ 456 ؛ واﻟﺤﺎﻛﻢ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺘﺪرك
ج4/ص68 رﻗﻢ 2735)
Dari Uwaim bin Sa’idah ra, sesunguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memilih diriku, lalu memilih untukku para sahabat dan
menjadikan mereka sebagai pendamping dan penolong. Maka siapa yang mencela mereka,
atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima
amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah”.
د. إ ِذَا ﻛَﻔ ﱠﺮ َ اﻟﺮﱠﺟُﻞُ أ َﺧَﺎهُ ﻓَﻘَﺪْ ﺑَﺎء َ ﺑ ِﮭَﺎ أ َﺣ َﺪُھُﻤ َﺎ
“Jika seseorang mengkafirkan saudaranya, maka sesungguhnya kalimat itu kembali kepada salah
satu dari keduanya.” (HR Muslim, dalam Shahih Muslim Jilid I/hal 47 hadits No. 111, hadits
senada diriwayatkan oleh al-Bukhari, Juz III/hal. 408 No.5883)
ذ.ﻋَﻦ ْ أ َﺑ ِﻲ ذَرﱟ ر َﺿ ِﻲ ﷲ ﱠ ﻋَﻨْﮫ أ َﻧﱠﮫُ ﺳَﻤِﻊَ اﻟﻨﱠﺒ ِﻲﱠ ﺻ َﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َﺳَﻠ ﱠﻢ َ ﯾَﻘ ُﻮلُ ﻻ َ ﯾَﺮ ْﻣِﻲ رَﺟُﻞٌ رَﺟُﻼ ً ﺑ ِﺎﻟ ْﻔ ُﺴُﻮق ِ و َﻻ َ ﯾَﺮ ْﻣِﯿﮫِ ﺑ ِﺎﻟ ْﻜُﻔ ْﺮ ِ إ ِﻻ ﱠ
ار ْ ﺗَﺪﱠت ْ ﻋَﻠَﯿْﮫِ إ ِن ْ ﻟَﻢْ ﯾَﻜ ُﻦ ْ ﺻ َﺎﺣ ِﺒُﮫُ ﻛَﺬَﻟِﻚ َ
Dari Abi Dzar ra bahwa dia mendengan Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seseorang
melemparkan tuduhan kepada yang lain dengan kefasikan, dan tidak pula melemparkan tuduhan
kepada yang lain dengan kekafiran, melainkan hal itu akan kembali kepadanya apabila yang
dituduh ternyata tidak demikian”.(HR al-Bukhari, Shahih Bukhari Juz III/ hal. 396, No. 582)
ر.إ ِن ﱠ ﻣِﻦ ْ أ َﻣ َﻦ ﱢ ا ﻟﻨ ﱠﺎس ِ ﻋَﻠَﻲﱠ ﻓِﻲ ﺻُﺤ ْ ﺒَﺘِﮫِ و َﻣ َﺎﻟِﮫِ أ َﺑَﺎ ﺑَﻜ ْﺮ ٍ و َ ﻟَﻮْ ﻛ ُﻨ ْﺖ ُ ﻣُﺘ ﱠﺨِﺬ ًا ﺧَﻠِﯿﻼ ً ﻏَﯿْﺮ َ ر َﺑﱢﻲ ﻻ َ ﺗ ﱠﺨَﺬ ْت ُ أ َﺑَﺎ ﺑَﻜ ْﺮ ٍ و َﻟَﻜِﻦ ْ أ ُﺧ ُﻮﱠةُ اﻹ ْ ِ ﺳْﻼ َ م ِ
و َﻣ َﻮ َ دﱠﺗُﮫُ ِ
Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di sisiku dengan harta dan jiwanya adalah Abu
Bakar. Seandainya aku memilih kekasih, selain Tuhanku maka aku akan memilih Abu Bakr,
Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. (HR alBukhari, Juz II/hal 344 No. 3529; hadits senada diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim Jilid
II/hal 1119)
ز. ﻗَﺎ لَ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻ َﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َﺳَﻠ ﱠﻢ َ اﻗ ْﺘَﺪُوا ﺑ ِﺎﻟﻠ ﱠﺬَﯾْﻦ ِ ﻣِﻦ ْ ﺑَﻌْﺪِي أ َﺑ ِﻲ ﺑَﻜ ْﺮ ٍ و َ ﻋُﻤ َﺮَ
Rasulullah Saw bersabda ikutilah teladan orang-orang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar (HR
al-Tirmidzi, Juz V/hal 609 No. 3662)س. ﻋَﻦ ْ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﺮﱠﺣ ْ ﻤ َﻦ ِ ﺑْﻦ ِ ﻋَﻮْف ٍ ﻗَﺎل َ ﻗَﺎل َ ر َﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ –ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ- « أ َﺑُﻮ ﺑَﻜ ْﺮ ٍ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨ ﱠﺔِ و َ ﻋُﻤ َﺮُ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨ ﱠﺔِ و َ ﻋُﺜ ْﻤ َﺎن ُ ﻓِﻰ
اﻟ ْﺠ َﻨﱠ ﺔِ و َ ﻋَﻠِﻰ ﱞ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨﱠﺔِ و َطَﻠ ْﺤ َﺔ ُ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َ ﻨﱠﺔِ و َ اﻟﺰ ﱡﺑَﯿْﺮُ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨﱠﺔِ و َ ﻋَﺒْﺪُ اﻟﺮﱠﺣ ْﻤ َﻦ ِ ﺑْﻦ ُ ﻋَﻮْف ٍ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َ ﻨﱠﺔِ و َ ﺳَﻌْﺪٌ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨﱠﺔِ و َﺳَﻌ ِﯿﺪٌ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨﱠﺔِ
و َأ َﺑُﻮ ﻋُﺒَﯿْﺪَةَ ﺑْﻦ ُ اﻟ ْﺠ َﺮﱠاح ِ ﻓِﻰ اﻟ ْﺠ َﻨ ﱠﺔِ
Dari Abdurrahman bin Auf dia berkata; Rasulullah Saw bersabda: “Abu Bakar di syurga, Umar
di syurga, Utsman di syurga, Ali di syurga, Thalhah di syurga, Zubair di syurga, Abdurahman
ibn Auf di syurga, Sa’ad (ibn Abi Waqqash) di syurga, Said (ibn Zaid ibn Amru ibn Nufail) di
syurga, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah di syurga” (HR al-Tirmidzi, Juz V/hal 647 hadits No. 3747)
ش.ﻋﻦ ﻣُﺤ َﻤﱠﺪِ ﺑ ْﻦ ِ ﻋَﻠِﻲ ﱟ و َ أ َﺧ ُ ﻮهُ ﻋَﺒْﺪُﷲ ﱠ ِ ﺑْﻦ ُ ﻣُﺤ َﻤﱠﺪٍ ﻋَﻦ ْ أ َﺑ ِﯿﮭ ِﻤ َﺎ أ َن ﱠ ﻋَﻠِﯿً ّﺎ ر َﺿ ِﻲ ﷲ ﱠ ﻋَﻨ ْﮭﻢ ﻗَﺎل َ ﻻ ِ ﺑْﻦ ِ ﻋَﺒﱠﺎس ٍ إ ِنﱠ اﻟﻨ ﱠﺒ ِﻲﱠ ﺻ َﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ
و َﺳَﻠ ﱠﻢ َ ﻧَﮭَﻰ ﻋَﻦ ِ اﻟ ْﻤُﺘْﻌَﺔِ و َ ﻋَﻦ ْ ﻟ ُﺤُﻮم ِ اﻟ ْﺤُﻤُﺮ ِ اﻷ ْ َھْﻠِﯿﱠﺔِ زَﻣ َﻦ َ ﺧَﯿْﺒَﺮَ
Dari Muhammad bin Ali dan saudaranya Abdullah bin Muhammad dari Bapak keduanya
bahwasanya Ali Ra berkata kepada Ibnu Abbas sesungguhnya Nabi saw melarang mut’ah dan
makan daging keledai jinak pada masa perang khaibar. (HR al-Bukhari, Juz III/hal 200, hadits
No. 4925)
ص. ﻋَﻦ ْ إ ِﯾَﺎس ِ ﺑْﻦ ِ ﺳَﻠَﻤ َﺔَ ﻋَﻦ ْ أ َﺑ ِﯿﮫِ ﻗَﺎل َ ر َﺧ ﱠﺺ َ رَﺳُﻮلُ ﷲ ﱠ ِ ﺻ َﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َﺳَﻠ ﱠﻢ َ ﻋَﺎم َ أ َو ْطَﺎس ٍ ﻓِﻲ اﻟ ْ ﻤُﺘ ْ ﻌَﺔِ ﺛَﻼ َ ﺛ ًﺎ ﺛ ُﻢﱠ ﻧَﮭَﻰ ﻋَﻨ ْﮭَﺎ
Dari Iyas bin Salamah dari ayahnya berkata : Rasulullah memperbolehkan nikah mut’ah pada
saat perang autas selama tiga hari lalu melarangnya. (HR. Muslim, Shahih Muslim Jilid II/hal.
633)
1. Hadits Mauquf kepada Ali ra.
ﻋَﻦ ْ ﻣُﺤ َﻤﱠﺪِ ﺑْﻦ ِ اﻟ ْﺤ َﻨَﻔِﯿﱠﺔِ ﻗَﺎل َ ﻗ ُﻠ ْﺖ ُ ﻷ ِ َﺑ ِﻲ أ َيﱡ اﻟﻨﱠﺎس ِ ﺧَﯿْﺮٌ ﺑَﻌْﺪَ ر َ ﺳُﻮل ِ ﷲ ﱠ ِ ﺻ َﻠ ﱠﻰ ﷲ ﱠ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َﺳَﻠ ﱠ ﻢ َ ﻗَﺎل َ أ َﺑُﻮ ﺑَﻜ ْﺮ ٍ ﻗ ُﻠ ْﺖ ُ ﺛ ُﻢﱠ ﻣ َﻦ ْ ﻗَﺎل َ ﺛ ُﻢﱠ ﻋُﻤ َﺮُ
و َﺧَﺸ ِﯿﺖ ُ أ َن ْ ﯾَﻘ ُﻮل َ ﻋُﺜ ْﻤ َﺎن ُ ﻗ ُﻠ ْﺖ ُ ﺛ ُﻢﱠ أ َﻧ ْﺖ َ ﻗَﺎل َ ﻣ َ ﺎ أ َﻧَﺎ إ ِ ﻻ ﱠ ر َﺟُ ﻞٌ ﻣِﻦ َ اﻟ ْﻤُﺴْﻠِﻤِﯿﻦ َ
Dari Muhammd bin Hanafiyah dia berkata; Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi
Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? beliau menjawab:
“Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab: “Umar”. Dan aku
khawatir beliau akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau
menjawab: “Bukan aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”.(diriwayatkan oleh al-Bukhari
dalam Shahih Bukhari Juz II/hal 347 No.3544)
1. Pendapat Para Ulama
1. Pendapat Imam Malik
روى اﻟﺨﻼل ﻋﻦ اﺑﻰ ﺑﻜﺮ اﻟﻤﺮوزى ﻗﺎل : و َﺳَﻤِﻌْﺖ ُ أ َﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﷲ ﱠ ِ ﯾَﻘ ُﻮلُ : ﻗَﺎل َ ﻣ َﺎﻟِﻚٌ : اﻟ ﱠﺬِي ﯾَﺸ ْﺘِﻢُ أ َﺻ ْ ﺤ َﺎب َ اﻟﻨﱠﺒ ِﻲ ﱢ ﺻ َ ﻠ ﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯿْﮫِ و َﺳَﻠ ﱠﻢ َ
ﻟَﯿْﺲ َ ﻟَﮫُ ﺳَﮭْﻢٌ، أ َو ْ ﻗَﺎل َ : ﻧَﺼ ِﯿﺐٌ ﻓِﻲ اﻹ ِ ﺳْﻼم ِ ( اﻟﺨﻼل / اﻟﺴﻦ: ٥٥٧،٢ )
Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh
berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak
termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )
1. Pendapat Imam Ahmadروى اﻟﺨﻼل ﻋﻦ اﺑﻰ ﺑﻜﺮ اﻟﻤﺮوزى ﻗﺎل : ﺳَﺄ َﻟ ْﺖ ُ أ َﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ ﷲ ﱠ ِ : ﻋَﻦ ْ ﻣ َﻦ ْ ﯾَﺸ ْﺘِﻢُ أ َﺑَﺎ ﺑَﻜ ْﺮ ٍ و َ ﻋُﻤ َﺮ َ و َﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ؟ ﻗَﺎل َ : ﻣ َﺎ أ ُر َآهُ ﻋَﻠَﻰ اﻹ ِ ﺳْﻼم ِ (
اﻟﺨﻼل / اﻟﺴﻨﺔ : ٥٥٧ ،٢)
Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu
Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya
berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).
1. Pendapat Ibnu Hazm
ﻓﺈن اﻟﺮواﻓﺾ ﻟﯿﺴﻮا ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﯿﻦ إﻧﻤﺎ ھﻲ ﻓﺮق ﺣﺪث أوﻟﮭﺎ ﺑﻌﺪ ﻣﻮت اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ و ﺳﻠﻢ ﺑﺨﻤﺲ وﻋﺸﺮﯾﻦ ﺳﻨﺔ وﻛﺎن
ﻣﺒﺪؤھﺎ إﺟﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺧﺬﻟﮫ ﷲ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﺪﻋﻮة ﻣﻦ ﻛﺎد اﻹﺳﻼم وھﻲ طﺎﺋﻔﺔ ﺗﺠﺮي ﻣﺠﺮى اﻟﯿﮭﻮد واﻟﻨﺼﺎرى ﻓﻲ اﻟﻜﺬب واﻟﻜﻔﺮ
Sesungguhnya rofidhoh bukanlah dari kalangan kaum muslimin, kelompok ini mula-mula
muncul 25 tahun setelah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – wafat. Dan asalnya bermula dari
mengikuti dakwah seorang yang Alloh hinakan yang hendak memerangi Islam kelompok ini
berjalan di atas jalannya orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam kedustaan dan kekufuran. (AlFishol fil-milal 2/213)
1. Pendapat KH Hasyim Asyari (Rois Akbar PBNU)
و َاﺻ ْ ﺪَعْ ﺑ ِﻤ َﺎﺗُﺆْﻣ َﺮُ ﻟِﺘَﻨ ْﻘَﻤِﻊَ اﻟ ْﺒ ِﺪَعُ ﻋَﻦ ْ اَھْﻞ ِ ا ْﻟﻤ َﺪَر ِو َاﻟ ْﺤ َﺠَﺮ ِ . ﻗﺎل رﺳﻮل ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ “ اِذَاظَﮭَﺮَتِ اﻟ ْﻔِﺘَﻦ ُ اَو ِاﻟ ْﺒ ِﺪَعُ وﺳُﺐ ﱠ
اَﺻ ْ ﺤَﺎﺑ ِﻲْ ﻓَﻠ ْﯿُﻈ ْﮭ ِﺮ ِاﻟ ْﻌَﺎﻟِﻢُ ﻋِﻠ ْﻤ َﮫُ ﻓَﻤ َﻦ ْ ﻟَﻢْ ﯾَﻔ ْﻌَﻞ ْ ذَﻟِﻚ َ ﻓَﻌَﻠَﯿْﮫِ ﻟَﻌْﻨَﺔ ُ ﷲِ و َ اﻟ ْﻤ َﻼَﺋِﻜَﺔِ و َ اﻟﻨﱠﺎس ِ اَﺟْﻤ َﻌِﯿْﻦَ
Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah
terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ahbid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim
menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah,
laknat Malaikat dan semua orang.”(Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul ulama).
MEMUTUSKAN
1. Mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI daerah yang menyatakan bahwa
ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran
Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan
faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.
1. Menyatakan bahwa penggunaan Istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adalah bentuk
pembajakan kepada ahlul bait Rasulullah Saw.
2. Merekomendasikan:
1. Kepada Umat Islam diminta untuk waspada agar tidak mudah terpengaruh dengan
faham dan ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang
menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya)
2. Kepada Umat Islam diminta untuk tidak mudah terprovokasi melakukan tindakan
kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran
dakwah Islam
3. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar tidak memberikan
peluang penyebaran faham Syi’ah di Indonesia, karena penyebaran faham Syi’ah
di Indonesia yang penduduknya berfaham ahlu al-sunnah wa al-jama’ah sangat
berpeluang menimbulkan ketidakstabilan yang dapat mengancam keutuhan
NKRI.
4. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar melakukan
tindakan-tindakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku antara lain
membekukan/melarang aktivitas Syi’ah beserta lembaga-lembaga yang terkait.
5. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas
dalam menangani konflik yang terjadi, tidak hanya pada kejadiannya saja, tetapi
juga faktor yang menjadi penyulut terjadinya konflik, karena penyulut konflik
adalah provokator yang telah melakukan teror dan kekerasan mental sehingga
harus ada penanganan secara komprehensif.
6. Kepada Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas
dalam menangani aliran menyimpang karena hal ini bukan termasuk kebebasan
beragama tetapi penodaan agama.
7. Kepada Dewan Pimpinan MUI Pusat dimohon agar mengukuhkan fatwa tentang
kesesatan Faham Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang
menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaranajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah sebagai fatwa yang
berlaku secara nasional.
Surabaya 27 Shofar 1433 H
21 Januari 2012 M
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
PROPINSI JAWA TIMUR
Ketua Umum Sekretaris Umum
KH. Abdusshomad Buchori Drs. H Imam Tabroni, MM

Selasa, 08 Oktober 2013

Qurban Urunan Lembaga, Bolehkah?

sebelum kita menjawabnya, mari kita pahami Ketentuan-Ketentuan di bawah ini:

a. Kambing domba atau jawa
Tidak ada khilaf di kalangan ulama, bahwa seekor kambing cukup untuk satu orang. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullahu dalam Syarhul Kabir (5/168-169).

Seekor kambing juga mencukupi untuk satu orang dan keluarganya, walaupun mereka banyak jumlahnya. Ini menurut pendapat yang rajih, dengan dalil hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِهِ

“Dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang menyembelih qurban seekor kambing untuknya dan keluarganya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1510, Ibnu Majah no. 3147. At-Tirmidzi rahimahullahu berkata: “Hadits ini hasan shahih.”)

b. Unta dan Sapi
Menurut jumhur ulama, diperbolehkan 7 orang atau 7 orang beserta keluarganya berserikat pada seekor unta atau sapi. Dalilnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

نَحَرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحُدَيْبِيَّةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Hudaibiyyah seekor unta untuk 7 orang dan seekor sapi untuk 7 orang.” (HR. Muslim no. 1318, Abu Dawud no. 2809, At-Tirmidzi no. 1507)

Demikianlah ketentuan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur di kalangan kaum muslimin, dahulu maupun sekarang.

Atas dasar itu, maka apa yang sedang marak di kalangan kaum muslimin masa kini yang mereka istilahkan dengan ‘qurban sekolah’ atau ‘qurban lembaga/yayasan’1 adalah amalan yang salah dan qurban mereka tidak sah.  Ketika kegiatan qurban tidak memenuhi persyaratan untuk bisa disebut qurban maka hewan yang disembelih hanya bisa disebut kambing untuk mendapatkan daging. Artinya, penyembelihan kambing ini tidak bernilai sebagai ibadah qurban.

Al-Imam Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam tafsirnya Adhwa`ul Bayan (3/484) menegaskan: “Para ulama sepakat2, tidak diperbolehkan adanya dua orang yang patungan pada seekor kambing.”

Solusi:
Kambing ini bisa menjadi hewan qurban, jika dihadiahkan ke seseorang. Baik anggota yang ikut urunan atau orang lain. Misal dihadiahkan ke gurunya, dosennya, atau salah satu peserta urunan yang disepakati bersama. Sehingga kambing ini menjadi milik satu orang. Selanjutnya dia bisa berqurban dengan kambing itu, dan boleh menyertakan orang lain untuk turut mendapatkan pahalanya.

Allahu a’lam.


—————————————————
1 Qurban sekolah atau yayasan yang dimaksud adalah masing-masing murid/santri atau anggota sebuah lembaga/yayasan diminta untuk menyerahkan uang sejumlah Rp. 10.000,- misalnya. Dari uang yang terkumpul tersebut diberikan beberapa ekor kambing atau sapi sebagai hewan qurban.
2 Kesepakatan ini juga dinukil oleh Ibnu Khawwaz Bindad sebagaimana yang dicantumkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullahu dalam kitabnya At-Tamhid (10/307-308, cetakan terbaru, dengan tartib bab fiqih). Dan pada halaman 315 beliau sendiri yang menukilkan kesepakatan tersebut.

Sumber :

http://kaahil.wordpress.com/2010/11/13/hukum-patungan-qurban-di-sekolah-apakah-cukup-menyembelih-seekor-kambing-qurban-untuk-satu-orang-dan-keluarganya-walaupun-mereka-banyak-jumlahnya/

http://www.konsultasisyariah.com/boleh-urunan-qurban-kambing/